Penegak Hukum Dinilai Kurang Tegas Tangani Pelaku Perusakan Hutan RPH Sabrang BKPH Ambulu

0
946

Jember, raungpost.id

Kejadian perusakan hutan yang di lakukan baik oleh oknum masyarakat maupun petugas perhutani bukanlah hal yang baru lagi, karena kejadian seperti ini sudah sejak lama terjadi, khususnya di wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jember Jawa Timur.

Padahal sebagai petugas perhutani, mengamankan hutan adalah poin utamanya dan bukan malah merusak dengan berbagai macam cara seperti melakukan pencurian kayu dan lain-lain.

Namun meski para oknum petugas perhutani tertangkap basah dalam melakukan aksinya (mencuri kayu) dalam kawasan hutan, akan tetapi dari dulu hingga saat ini belum ada tindakan tegas dari pimpinan perhutani maupun pihak penegak hukum lainya kepada para pelaku agar mempunyai evek jera.

Selama yang ini di lakukan oleh pimpinan perhutani kepada bawahanya jika ketahuan mencuri kayu atau melakukan pelanggaran dalam tugas, hanya sekedar merubah tempat kerja, yang awalnya di lapangan di pindah ke kantor, cuma gitu-gitu aja, sehingga para oknum petugas perhutani yang mempunyai kebiasaan melakukan pencurian kayu atau melakukan penyimpangan dalam tugas, tidak pernah mempunyai evek jera.

Dengan adanya perilaku negative yang di lakukan oleh oknum-oknum petugas perhutani, tentu membuat citra (nama baik) petugas perhutani yang benar-benar melakukan tugas dengan baik menjadi ikut jelek. Oleh karena itu pimpinan perhutani maupun pihak penegak hukum lainya sangat di butuhkan ketegasanya untuk menindak tegas setegas-tegasnya kepada para pelaku perusak hutan, agar benar-benar mempunyai evek jera, jika perlu, lakukan pemecatan pada oknum petugas yang terlibat.

Kerusakan hutan yang terjadi di wilayah kerja perum perhutani KPH Jember bisa di bilang terjadi di semua BKPH dengan berbagai macam persoalan. Di antaranya yaitu pencurian kayu, pemotongan kayu yang hanya sekedar di robohkan lalu di biarkan, mematikan kayu dengan cara membakar batang pohon, penambangan mas liar, penggalian tanah dalam kawasan hutan yang materialnya di bawa pulang untuk di olah menjadi kendi, pencurian batu mangaan, jual lahan kawasan hutan dan pembukaan lahan baru dalam kawasan hutan.

Pelaku yang melakukan hal-hal tersebut tidak menutup kemungkinan juga melibatkan oknum petugas perhutani setempat, sehingga masyarakat merasa leluasa dalam melakukan aksinya.

Seperti yang terjadi di wilayah kerja perum pehutani RPH Sabrang BKPH Ambulu KPH Jember, dimana sejak beberapa tahun yang lalu hingga saat ini telah di lakukan penebangan liar atau pembukaan lahan baru dan di perjual-belikan kepada masyarakat yang ingin bertani di lokasi tersebut.

Penebangan liar dan pembukaan lahan serta penjualan lahan dalam kawasan hutan berlanjut hingga sekarang, dan sampai saat ini belum ada tindakan tegas dari para penegak hukum, kalau hal ini dibiarkan, lantas mau jadi apa hutan Jember..??

Menurut Edy Yanto KRPH Sabrang saat di temui wartawan pada hari kamis tanggal 11 oktober 2018 mengatakan bahwa permasalahan tersebut sudah di laporkan ke Asisten Perhutani Ambulu dan Polsek Ambulu. “Permasalahan ini sudah saya sampaikan ke Pak Asper Mas, dan masyarakat yang bertani di lokasi pun juga sudah saya mintai surat pernyataan perihal jual beli lahan tersebut, dan hasilnya juga sudah saya laporkan ke Pak Asper juga ke Polsek Ambulu” jelasnya”.

Pada hari yang sama, Asisten Perhutani BKPH Ambulu (Prastiyo) juga menyampaikan pada wartawan ” ya bener Mas, KRPH Sabrang telah melaporkan bahwa telah terjadi perusakan hutan dan pembukaan lahan serta pejualan lahan dalam kawasan hutan RPH Sabrang yang di lakukan oleh seseorang berinisial (M), dan permasalahan ini juga sudah saya laporkan ke Pak ADM” jelasnya.

Namun hingga sekarang masih belum ada tindak lanjut dari pimpinan perhutani maupun penegak hukum untuk menangani masalah tesebut.

Pada hari jumat kemarin tanggal 12 oktober 2018, wartawan raung post sengaja melakukan pembuktian di lokasi dan wartawan pun melihat dengan jelas apa yang di lakukan oleh masyarakat yang bertani di lokasi tersebut, mereka leluasa merobohkan tegakan, membakar batang tegakan karena mereka (masyarakat) merasa telah membeli lahan tersebut kepada seorang berinisial (M) dengan harga tiga juta rupiah per patok.

Beberapa orang yang sempat di temui wartawan dan tidak mau disebut namanya, menjelaskan (saya beli ke bapak (M) harganya tiga juta per patok, kalau sampean mau beli juga, langsung aja nemui bapak (M) Insya Allah nanti di carikan lokasi kok.

Saat ditanya apakah tidak ada masalah, mereka dengan santai menjawab bahwa selama bertahun-tahun menggarap hingga sekarang aman-aman saja dan tidak ada masalah. Dan ini semua bapak M yang berjuang, kalau tidak ada bapak M, gak mungkin bisa begini, jelasnya.

Di lanjut dengan pertanyaan bahwa penggarapan lahan ini berlaku sampai berapa tahun, orang yang di temui wartawan tersebut mengatakan bahwa pihaknya membeli sekali dan menggarap selamanya, dan mereka merasa enak dan aman karena setiap tahun membayar uang sebesar dua ratus ribu ke M dengan alasan uang keamanan.

Bukan cama sampai disitu, wartawan pun melanjutkan menemui M yang kebetulan berada tidak jauh dari lokasi, karena memang dirinya (M) adalah warga setempat yg juga tinggal dalam kawasan hutan RPH Sabrang.

Saat di temui dan diminta menjelaskan persoalan yang terjadi, pihaknya mengatakan bahwa semua ini terjadi yang ngawali juga petugas perhutani, sehingga masyarakatpun juga ikut-ikutan. Saya juga pesan pada mereka yang bertani agar setiap hari selalu membawa uang minimal lima puluh ribu, nanti kalau ketemu dengan mandor atau ada mandor yang lewat, kamu kasi uang itu ya. Jelasnya kepada wartawan. (tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here