Sosialisasi GENRE CERIA Bersama Anggota Komisi IX DPR-RI, BKKBN Dan DP3-AKB Terus Berlanjut

0
905
Drs. Ayub Khan M.si Anggota Komisi IX DPR-RI

Jember, raungpost.id

Untuk memberikan sebuah pemahaman kepada kalangan remaja berkenak,an dengan pergaulan bebas, sex diluar nikah, pemakaian narkoba serta menghindari terjadinya perkawinan usia dini, anggota komisi IX DPR-RI selaku mitra kerja terus memberikan bimbingan dan arahan melalui sosialisasi disejumlah lembaga pendidikan diseluruh kecamatan dan desa dikabupaten jember.

Dalam acara tersebut anggota komisi IX DPR-RI didampingi oleh BKKBN propinsi jawa timur, dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dan keluarga berencana atau (DP3-AKB) kabupaten jember.

Sosialisasi pembangunan melalui GENRE CERIA juga dilaksanakan di SMK wali songo yang berada didesa rambi gundam, kecamatan rambipuji, sabtu (20/10/2018). Acara tersebut dihadiri oleh seluruh dewan guru beserta adik-adik pelajar.

Anggota komisi IX DPR-RI Drs. Ayub Khan M.si menyampaikan tingginya angka perceraian, pernikahan dini, sex diluar nikah, penggunaan obat-obatan terlarang, dikalangan remaja saat ini sungguh sangat memprihatinkan.

” Masalah ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun lembaga pendidikan saja, namun orang tua juga harus turut memberikan pengawasan, arahan dan bimbingan ” .ujarnya.

Baca Juga:  Lembaga Pendidikan Diharapakan Membentuk Pusat Informasi Konseling Remaja

Untuk meminimalisir atau mencegah itu semua perlu dibentuk PIK-R disetiap lembaga pendidikan, kecamatan maupun desa. Para remaja ini akan mendapatkan bimbingan dan arahan dari ahlinya yaitu dari BKKBN.

Lebih jauh Ayub Khan mengatakan, idealnya pernikahan bagi remaja adalah usia 21 tahun bagi perempuan dan 25 bagi laki-laki, membentuk rumah tangga bukan hanya bermodalkan tekad atau nafsu saja, melainkan seluruhnya harus dipersiapkan secara matang.

Diantaranya ” ada kemauan mengubah prilaku menjadi lebih adaptif, kemauan menjadi lebih toleran dan ” Bernegosiasi ” dengan pasangan, ada kemauan untuk mengelola keuangan keluarga hingga ada kemauan untuk dapat mengelola stres dan konflik dengan baik ” .terang Ayub.

Yang dimaksud sex pra nikah adalah perbuatan hubungan suami istri yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang belum menjadi pasangan yang sah dalam pernikahan atau berganti-ganti pasangan, sex pra nikah ini resikonya luar biasa.

” Misalnya hamil diluar nikah yang ujung-ujungnya digugurkan secara ilegal dengan tingkat resiko kematian ibu, penyakit menular seksual (PMS), ketagiahan yang selalu berkhayal memikirkan seks dan malas beraktifitas ” .ungkapnya.

Baca Juga:  Pemprov Bersama Pemkab Menggelar Sosialisasi Dan Bimbingan sistem Pengadaan  Secara Elektronik

Sementara (Napza) adalah singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya, yang zat yang dimasukkan kedalam tubuh manusia secara oral (melalui mulut) dihirup melalui hidung atau disuntik sehingga menimbulkan efek tertentu terhadap tubuh.

” Pendewasaan usia perkawinan (PUP) adalah upaya untuk meningkatkan usia kawin pertama diusia 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. PUP bertujuan supaya remaja dapat mempersiapkan diri dalam membentuk keluarga kelak dengan penuh tanggung jawab ” .pungkas Ayub. (jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here