Aksi Puluhan Jurnalis Jember Tolak Remisi Dengan Berjalan Mundur

0
530

Jember, raungpost.id

Pemberian remisi oleh Presiden RI Joko Widodo kepada Susrama terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali AA Prabangsa menuai kekecewaan komunitas pers.

Keputusan yang tertuang dalam Kepres No 29 tahun 2018 tentang pemberian remisi perubahan dari pidana penjara seumur hidup menjadi pidana sementara tertanggal 7 desember 2018. Susrama sendiri merupakan satu dari 115 terpidana yang mendapatkan keringanan hukuman.

Perlu diketahu Susrama diadili dalam kasus pembunuhan Prabangsa 9 tahun lalu. Pembunuhan yang terjadi terhadapnya terkait pemberitaan dugaan adanya korupsi serta penyelewangan yang melibatkannya, oleh Prabangsa Harian Radar Bali dua bulan sebelumnya.

Dari hasil penyelidikan kepolisian serta pemeriksaan saksi dan BB dipersidangan, menunjukkan bahwa Susrama adalah otak dibalik pembunuhan. Ia diketahui memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa dirumah orang tuanya ditaman Bali, Bangli (11/2/2009) silam.

Prabangsa lantas dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Di sanalah ia memerintahkan anak buahnya memukuli dan akhirnya menghabisi Prabangsa. Dalam keadaan bernyawa Prabangsa dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung.

Prabangsa lantas dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian.

Untuk itu, puluhan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Jember (AJI Jember, IJTI Tapal Kuda, dan FWLM Jember) menggelar aksi solidaritas dengan melakukan longmarch jalan mundur dan orasi di bundaran DPRD Jember.

Beberapa poster bertuliskan Cabut Remisi Pembunuh Jurnalis, Pembunuh Jurnalis = Penjahat HAM, Remisi Mengancam Kebebasan Pers, Batalkan Remisi kepada Pembunuh Jurnalis.

Berdasarkan data AJI, kasus Prabangsa adalah satu dari banyak kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia. Kasus Prabangsa adalah satu dari sedikit kasus yang sudah diusut. Sementara, 8 kasus lainnya belum tersentuh hukum.

Delapan kasus itu, antara lain: Fuad M Syarifuddin (Udin), wartawan Harian Bernas Yogya (1996), pembunuhan Herliyanto, wartawan lepas harian Radar Surabaya (2006), kematian Ardiansyah Matrais, wartawan Tabloid Jubi dan Merauke TV (2010), dan kasus pembunuhan Alfrets Mirulewan, wartawan Tabloid Mingguan Pelangi di Pulau Kisar, Maluku Barat Daya (2010).

Berbeda dengan lainnya, kasus Prabangsa ini bisa diproses hukum dan pelakunya divonis penjara. Dalam sidang Pengadilan Negeri Denpasar 15 Februari 2010, hakim menghukum Susarama dengan divonis penjara seumur hidup. Sebanyak delapan orang lainnya yang ikut terlibat, juga dihukum dari 5 tahun sampai 20 tahun.

Upaya mereka untuk banding tak membuahkan hasil. Pengadilan Tinggi Bali menolak upaya kesembilan terdakwa, April 2010. Keputusan ini diperkuat oleh hakim Mahkamah Agung pada 24 September 2010.

Kini Presiden Joko Widodo, melalui Kepres No. 29 tahun 2018, memberi keringanan hukuman kepada Susrama. Menanggapi keluarnya keputusan presiden itu, Aliansi Jurnalis Jember menyatakan sikap:

Korlap aksi Mahrus Soleh mengatakan:

  1. Mengecam kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberikan remisi kepada pelaku pembunuhan keji terhadap jurnalis. Fakta persidangan jelas menyatakan bahwa pembunuhan ini terkait berita dan pembunuhannya dilakukan secara terencana. Susrama sudah dihukum ringan karena jaksa sebenarnya menuntutnya dengan hukuman mati, tapi hakim mengganjarnya dengan hukuman seumur hidup.

  2. Kebijakan presiden yang mengurangi hukuman itu melukai rasa keadilan tidak hanya keluarga korban, tapi jurnalis di Indonesia.

  3. Meminta Presiden Joko Widodo mencabut keputusan presiden pemberian remisi terhadap Susrama. Kami menilai kebijakan semacam ini tidak arif dan memberikan pesan yang kurang bersahabat bagi pers Indonesia.

AJI menilai, tak diadilinya pelaku kekerasan terhadap jurnalis, termasuk juga memberikan keringanan hukuman bagi para pelakunya, akan menyuburkan iklim impunitas dan membuat para pelaku kekerasan tidak jera, dan itu bisa memicu kekerasan terus berlanjut.

Aksi Aliansi Jurnalis ditutup dengan Treatikal Nunung Wijaya Jurnalis KJTV terbujur kaku lalu dibacakan tahli oleh jurnalis lainnya sebagai simbol matinya kebebasan pers. (jok)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here