Lemahnya Pengawasan, Proyek Jaringan Irigasi Terkesan Asal Jadi 

0
601

Bondowoso, raungpost.id

Kualitas pekerjaan proyek jaringan irigasi yang bersumber dari APBD Kabupaten Bondowoso tahun anggran 2019 sangat jauh dari harapan.

Hal tersebut terjadi karena lemahnya fungsi pengawasan dari Dinas terkait yakni Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bondowoso sebagai pemilik proyek.

Akibatnya, kualitas bangunan jaringan irigasi saluran Bringin di Dusun Cangkring II Desa Suco Lor Kecamatan Maesan yang dikerjakan oleh CV. SEKAR JAYA dengan nilai Kontrak Rp. 147.229.000,00 tidak sesuai spesifikasi teknis, diduga asal jadi dan amburadul.

Jelasnya, itu sangat merugikan pemerintah dan juga masyarakat penerima manfaat, khususnya para petani yang memiliki lahan pertanian diarea proyek.

Pemerintah harus memperketat pengawasan agar hasil proyek fisik yang dikerjakan dapat mencapai titik maksimal, ” Ucap salah satu warga Cangkring II, yang enggan disebut namanya. Sabtu, 10/8/2019

Sementara, Badri salah satu BPD Desa Suco Lor menyampaikan, pemerintah dalam hal ini dinas terkait sebagai pemilik proyek seharusnya memperhatikan mutu pekerjaan.
Jangan sampai pekerjaan dibiarkan tetap berjalan tanpa memperhatikan mutunya dan akhirnya masyarakatlah yang dirugikan. Pengawasan terhadap hampir seluruh proyek fisik yang tengah berjalan sangat lemah sehingga berpengaruh pada kualitas hasil pekerjaan.

Baca Juga:  Anggota Komisi IX DPR-RI Berikan Perhatian Serius Terhadap Maraknya Pernikahan Diusia Dini

“Di dalam SPK ada beberapa rincian jenis pekerjaan pada kegiatan rehab pemeliharaan irigasi, salah satunya pekerjaan beton k 125 dimana perbandingan 1 m3 pasir : 8 sak semen (@40 kg) dan pekerjaan beton k 175 dimana perbandingan 1 m3 : 11 sak semen (@40 kg) dan masih ada koral serta besi 6 “, betapa kuatnya analisa pekerjaan tersebut. ” Jelasnya

Akan tetapi Fakta dilapangan ditemukan kondisi sedemikian rupa tidak sesuai dengan tahapan pekerjaan, melainkan digarab tanpa batu koral hanya menggunakan pasir, bahkan cara pengelolaannya sangat miris sekali yaitu langsung pada titik lokasi.

Seharusnya digarap terlebih dulu baru dipasang dan itupun campuran semennya sama sekali tidak memenuhi standart. Hal itu sangat dirasa tidak sesuai, secara kasat pasangan jelasnya rapuh.

Menurutnya, hasil pekerjaan harus di tes dengan alat uji kuat beton, untuk memastikan kwalitas bangunan memenuhi spesifikasi teknis.

“Mengambil seluruh titik pekerjaan beton dilapangan dengan cara menggunakan alat hammer tes guna untuk mengetahui apakah hasil kalibrasi sudah sesuai dengan analisa beton yg ada diSPK atau malah sebaliknya.”Tegas Badri (Abas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here