Pentingnya Ilmu, Tidak Ada Pengangguran Bagi Orang Yang Berilmu 

0
424

Jember, RaungPost.id

Mencari ilmu bukan sebatas agar kelak lulus dan memperoleh ijazah sebagai syarat mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan banyak uang, gelar dan sejenisnya.

Niat seperti itu, dianggap tidak cukup, dan tidak akan membawa hasil maksimal. “Jelas Ustad Abdul Haris yang juga seorang Dosen di Kampus IAIN Jember, di acara Pembekalan cara cepat belajar Nahwu Sorrof seusai acara Silaturrahim Akbar Ikatan Santri Alumni di Pondok Pesantren Misbahul Ulum Sukojember Kecamatan Jelbuk, Minggu Kemarin, (1/9/2019)

Belajar harus didasari oleh panggilan untuk memenuhi perintah Allah dan kecintaan terhadap ilmu. Karena Sukses itu bukan kebetulan melainkan harus direncanakan. Sukses itu harus dengan ilmu.

“Tidak ada pengangguran bagi orang berilmu. Dan mencari ilmu itu harus berjuang jiwa raga. Karena jika ada orang mencari ilmu tidak mau susah maka jangan harap mendapatkan ilmu.” Tegas Ust. Haris

Menurutnya, Pesantren merupakan wadah untuk anak-anak kita menimba ilmu moral dan akhlaq, ekonomi dan ilmu sosial yang juga dipelajari dipesantren bahkan menjadi adat budaya dilingkungan Pesantren.

Baca Juga:  Ratusan Pensiunan Unesa Kunjungi Beberapa Wisata Andalan di Kota Surabaya

Pendidik Pesantren yakni Kiyai pesantren ikhlasnya sangat luar biasa, karena seorang kiyai tidak berfikir bagaimana mendapatkan hasil dari pesantren melainkan bagaimana mencetak kader-kader/santri menjadi generasi yang handal dari berbagai bidang. “Jelas Ustad Haris

Lanjut, Ust. Haris, tidak gampang meyakinkan kepada semua orang bahwa pandangan kiyai, pengasuh pesantren tersebut adalah benar.

Namun demikian, tidak sedikit pesantren terbukti berhasil mengantarkan santrinya menjadi ulama besar, memimpin umat, dan juga mendirikan pesantren di mana-mana.

“Bahkan banyak pula seorang santri yang menduduki Jabatan penting diantaranya, Legislatif, Eksekutif, Yudikatif. ” Ujarnya

Saya berpesan kepada semua wali santri agar terus berdo’a dan ikhtiyar. Semua Orang tua menginginkan anaknya menjadi anak sholeh dan sholehah, hal itu harus dibuktikan dengan usaha, iktiyar yakni (Tirakat, Bahasa Pesantren. red).

Karena hal itu sangat terbukti, contohnya KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) yang mana Almarhum Ayahanda/abi dari Gus Mus yakni KH. Bisri yang terkenal dengan keikhlasannya dalam berbuat dan mendidiknya, Imbuhnya (Abbas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here