Wali Murid Keluhkan Besaran Uang Les Yang Diterapkan Sekolah

0
34

Jember, RaungPost.id

Sumbangan atau pemberian secara sukarela kerap digunakan lembaga pendidikan untuk menarik pungutan dari siswa secara halus. Namun, interpretasi sumbangan menjadi berbeda ketika pihak sekolah mematok nominal berapa rupiah yang harus diberikan.

Seperti penuturan salah seorang wali murid yang mengeluhkan besarnya biaya sumbangan kepada pihak SMA Negeri Kalisat, Jember.

RJ, warga Desa Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat itu merasa ganjil ketika sekolah meminta sumbangan sebesar 600 ribu untuk keperluan les. Menurutnya, angka sebesar itu tidak masuk akal kalau cuma untuk materi belajar tambahan seperti les.

“Les itu persiapan menghadapi ujian nasional. Awalnya sekolah menawarkan tidak ada paksaan mau ikut les atau enggak dengan biaya sebesar itu. Tapi belakangan seperti ada paksaan siswa harus ikut les,” kata RJ kepada media ini.

Tekanan itu kata RJ, bahkan diikuti oleh ancaman dari pihak sekolah. Jika tidak berpartisipasi terhadap program sekolah tersebut siswa akan dipersulit ke depannya.

Di tempat terpisah, Kepala Sekolah SMAN 1 Kalisat tidak bisa dikonfirmasi, Suroto, bagian Humas sekolah mengatakan pimpinannya sedang ada acara di Cibubur. Namun, ia buru-buru membantah ada paksaan dalam penarikan sumbangan dari siswa atau wali murid.

Dijelaskannya, memang ada penawaran sebesar 600 ribu tetapi itu tidak hanya untuk les saja ada komponen-komponen lain yang dimasukkan ke dalam nominal tersebut.

“Kalau cuma untuk les itu (600 ribu) terlalu mahal,” katanya tanpa menyebutkan rincian apa saja di dalamnya.

Suroto mengatakan, untuk rincian lebih mendalam ia meminta konfirmasi ke kepala sekolah atau pihak komite karena sebelumnya perihal sumbangan tersebut sudah dirapatkan antara pihak terkait.

Dalam penawaran tersebut kata Suroto, tidak ada penolakan dari wali murid itu terlihat dari rapat yang telah mencapai mufakat pada sekali pertemuan.

Menurutnya, les tambahan di luar jam pelajaran murni sangat penting dalam rangka menghadapi ujian nasional.

“Tidak ada paksaan, mau ikut terserah. Bayar atau tidak siswa tetap bisa ikut les tidak ada diskriminasi,” tuturnya kepada media ini, Kamis (14/11). Rencananya, les akan dilakukan dalam 10 kali tatap muka mulai November 2019 sampai Februari 2020. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here